Konsep Dasar Penyusunan Informasi Akuntansi

konsep dasar akuntansi

Konsep dasar akuntansi (basict concept) adalah anggapan dasar atau asumsi-asumsi yang dipakai dan menjadi landasan dalam pelaporan informasi akuntansi.

Nah, sebelum belajar Akuntansi penting untuk dipahami terlebih dahulu apa saja sih konsep dasar atau prinsip akuntansi.

Setiap ilmu pasti memiliki konsep dasar, begitu juga dengan ilmu akuntansi.

Akuntansi memiliki konsep-konsep dasar yang nantinya akan digunakan sebagai pedoman dalam pelaporan keuangan agar pelaporan keuangan tersebut mudah dipahami oleh semua pihak pemakai informasi akuntansi.

Berikut adalah berbagai versi Konsep Dasar Akuntansi 

Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) : Konsep dasar akuntansi sendiri menurut IAI dalam Kerangka Dasar Penyajian dan Pelaporan Keuangan (KDPPLK) paragraf 22 dan 23 menyatakan bahwa asumsi dasar akuntansi berdasarkan dasar akrual (acrual basic) dan kelangsungan usaha (going concern).

International Financial Reporting Standards (IFRS): Menurut IFRS pada The Conceptual Framework for Financial Reporting paragraf 4.1, asumsi dasar dari akuntansi adalah hanya kelangsungan usaha.

Paton dan Littleton : konsep dasar akuntansi terdiri dari, konsep kesatuan usaha (Entity Theory), kelangsungan usaha (going concern), biaya melekat(cost attach), upaya dan hasil(effort and accomplishment), bukti yg terverifikasi, dan asumsi.

Itulah beberapa versi konsep dasar yang kali ini akan kita bahas

1. Accrual Basic dan Cash Basic

Menurut UU No.16 pembukuan diselenggarakan dengan prinsip taat asas dan dengan accrual basic atau cash basic

Accrual Basic adalah suatu konsep yang menyatakan bahwa transaksi atau peristiwa lain diakui pada waktu kejadian tersebut.

Secara mudahnya accrual basic dapat diartikan begini, pencatatan atas sebuah transaksi baik pengakuan beban atau pendapatan yang dilakukan pada saat transaksaksi tersebut terjadi.

Jadi dalam accrual basic ini tidak memperhatikan apakah ada arus kas masuk atau arus kas keluar. Yang terpenting transaksi tersebut telah terjadi.

Contohnya, sering kan kita melihat pembelian secara kredit. Nah misalnya disuatu perusahaan melakukan penjualan sebesar 2 Miliar, yang 500 juta secara tunai sementara yang 1,5 Miliar secara kredit .

Kembali lagi pada pengertian accrual basic yang memperhatikan waktu terjadinya transaksi.

Maka, transaksi ini langsung dicatat dalam jurnal penjualan perusahaan tersebut 2 Miliar walaupun cuma nerima uang 500 juta. Bukan dicatat pada saat barang tersebut dilunasi.

Peristiwa tersebut juga arus dilaporkan dalam laporan keuangan pada periode saat itu.

Laporan keuangan yang disusun dengan dasar akrual basis dapat memberikan informasi dengan lengkap kepada pemakai informasi akuntansi.

Tidak hanya transaksi masa lalu yang melibatkan penerimaan atau pengeluaran kas, tapi juga memberikan informasi tentang kewajiban pengeluaran kas di masa depan dan sumber daya yang mewakili kas yang akan diterima di masa depan.

Sementara Cash Basic kebalikan dari Accrual Basic.

Cash basic adalah konsep akuntansi yang mengakui pendapatan atau pengeluaran ketika kas diterima atau dikeluarkan.

Hampir semua perusahaan melakukan pencatatan dengan menggunakan accrual basic karena pendapatan yang terhimpun (accrued) dan sudah menjadi hak perusahaan tetapi belum diterima uangnya untuk diakui dan dicatat.

Sehingga, aktiva perusahaan akan naik sebesar jumlah rupiah hak yang terhimpun (accrued assets) karena penyerahan barang atau jasa.

Jika hal tersebut tidak dicatat, jumlah rupiah atau jasa yang diserahkan menjadi tidak cocok dengan kenyataannya. Dalam hal ini berarti tidak sesuai dengan jumlah fisik barang atau jasa yang benar-benar telah diserahkan kepada konsumen.

Asas akrual lebih tergambar konsep dasar pengakuannya yakni pada asas pengakuan pendapatan dan biaya yang diakui oleh sebuah entitas.  Suwardjono (2005) mendefinisikan:

Asas akrual adalah asas dalam pengakuan pendapatan dan biaya yang menyatakan bahwa pendapatan diakui pada saat hak kesatuan usaha timbul Karena penyerahan barang atau jasa ke pihak luar dan biaya diakui pada saat kewajiban timbul lantaran penggunaan sumber ekonomik yang melekat pada barang dan jasa yang diserahkan tersebut. (Hlm. 237)

2. Konsep Kelangsungan Usaha (Going Concern)

Konsep dasar kelangsungan usaha (going concern) ini mengasumsikan bahwa perusahaan akan terus berjalan sampai waktu yang tidak ditentukan.

Ya pasti jika Anda punya perusahaan pasti kan ingin usahanya berlanjut terus.

Perusahaan dalam melakukan kegiatan usahanya, tentunya berupaya untuk melaksanakan kegiatan perusahaan secara berlanjut atau berkesinambungan.

Dalam kegiatan usaha itu dibuatlah laporan keuangan perusahaan. Laporan keuangan yang disusun secara berkala betujuan agar dapat dibandingkan sehingga nantinya diperoleh informasi tentang kemajuan atau kemunduran usaha dan untuk mengevaluasi kinerja perusahaan tersebut.

Dengan membandingkan laporan keuangan dari satu periode dengan periode lainnya dapat diperoleh suatu data yang pasti tentang naik turunnya pendapatan dan beban, sebagai dasar dalam membuat suatu kebijaksanaan untuk kemajuan perusahaan.

3. Konsep Kesatuan Usaha (Bussiness Entity)

Dalam konsep kesatuan usaha ini, perusahaan merupakan suatu kesatuan ekonomi yang terpisah dari pihak yang berkepentingan dengan pelaku usaha.

Artinya keuangan perusahaan terpisah dari pemilik, terpisah dari keuangan karyawan dan juga dari keuangan pada direksi. Sehingga perusahaan dianggap sebagai satu kesatuan usaha.

Pemisahan ini bertujuan agar informasi keuangan bisa diketahui dengan jelas berapa kekayaan perusahaan yang sesungguhnya.

4. Konsep Pengkaitan (Matching Concept)

Matching concept adalah proses pengkaitan biaya dengan pendapatan.

Menurut konsep ini beban diakui dalam laporan laba rugi atas dasar hubungan langsung antara biaya yang timbul dengan pos penghasilan tertentu yang diperoleh.

Diakuinya beban bukan pada saat pengeluaran kas telah terjadi atau telah dibayarkan. Namun, diakui ketika suatu produk atau jasa secara aktual memberikan kontribusi terhadap pendapatan.

Perhitungan laba atau rugi yang dilaporkan menggambarkan keadaan yang sebenarnya dalam suatu periode tertentu.

Jadi belum tentu semua kas yang keluar adalah beban dan belum tentu juga beban mengurangi kas. Beban yang telah dikeluarkan adalah suatu upaya untuk memperoleh pendapatan

5. Konsep Biaya Historis (historical cost principle)

Pada konsep ini penilaian detail keuangan didasarkan pada beban yang telah terjadi dan tercatat dalam sistem pencatatan keuangan tersebut.
Dengan konsep ini aktiva dicatat sebesar pengeluaran kas (atau setara kas) yang dibayar atau sebesar nilai wajar dari imbalan (konsideran) yang diberikan untuk memperoleh aktiva tersebut pada saat perolehan. Konsep ini sering juga disebut dengan konsep harga perolehan.
Misalnya jika suatu perusahaan membeli sebuah mesin dengan harga 100 juta, dengan ongkos angkut 2 juta  maka yang dicatat adalah keseluruhan dari biaya yang telah dikeluarkan untuk memperoleh mesin (aktiva) tersebut yaitu sebesar 102 juta.