Kenaikan Harga Rokok Indonesia

Kenaikan harga rokok menjadi Rp.50.000 per bungkus dari sebelumnya sekitar Rp.15.000 yang diberitakan akhir-akhir ini menyebabkan banyak orang ramai membicarakan hal ini. Seluruh kalangan masyrakat dari mulai para pejabat, pegawai hingga petani bahkan para remaja yang sebetulnya masih di bawah umurpun tak luput dari pembicaraan dan perdebatan mengenai rencana kenaikan harga rokok yang mencapai hingga 3x lipat ini. Ya… Pro dan kontra dalam masyarakat terkait hal ini sangat menarik untuk kita bahas dalam tulisan kali ini.

Siapa yang tak kenal rokok, rokok yang dianggap nikmat ini memiliki segudang racun yang menyebabkan penyakit yang mematikan seperti serangan jantung, kanker, gangguan paru – paru dan penyakit mematikan lain sebagainya. Bahkan tak Cuma perokok aktif, perokok pasifpun menjadi terkena dampak kerugian yang ditimbulkan oleh orang lain.
Tidak hanya menyangkut kesehatan, rokok juga berpengaruh terhadap ekonomi bangsa ini karena penerimaan negara dari Bea dan Cukai pada tahun 2006 bisa mencapai Rp. 52 triliun, Rp. 63 triliun pada tahun 2010, melonjak drastis pada tahun 2014 dengan total pendapatan hingga Rp.112,5 triliun dan jumlah pendapatan Rp. 139.5 triliun di tahun 2015. Akankah jumlah yang akan dicapai ditahun 2016 ini mengalami kenaikan? . Pendapatan Bea dan Cukai di dominasi oleh rokok dengan nilai hingga 95% dari total pendapatan Bea dan Cukai, jumlah yang yang tidak sedikit ini apakah menurut anda tidak akan berpengaruh terhadap perekonomian negeri ini?
Tak cuma berhenti disitu, pabrik rokok adalah pabrik yang menerapkan sistem padat karya yang artinya mempekerjakan tenaga manusia sebanyak mungkin dibandingkan dengan tenaga mesin, hal ini tentu saja berdampak pada lapangan pekerjaan yang terbuka luas terutama untuk kaum perempuan atau ibu rumah tangga. Ribuan bahkan puluhan ribu orang bekerja pada tiap-tiap pabrik rokok dan menggantukan pengahasilan dari sektor ini.
 
Heru Pembudi, Direktur Jenderal Bea dan Cukai Kementerian Keuangan mengatakan bahwa harga rokok di Indonesia kini justru  mahal jika dibandingkan dengan negara lain tak terkecuali dibandinkan negara maju. Nilai ini dibandingkan melalui rasio antara produk domestik bruto (PDB per kapita) dengan harga harga rokok di masing – masing  negara itu sendiri. Untuk secara nominal Indonesia memang harga rokok di Indonesia terbilang rendah dibanding negara lain seperti Malaysia, Singapore, dan Jepang. Namun jika dihitung dari daya beli masyarkat atau pendapatan per kapikta Indonesia masih berada jauh lebih mahal dibandingkan negara tersebut apabila dibandingkan dengan negara-negara maju, nominalnya harga rokok Indonesia memang lebih murah. Yang penting digaris bawahi  adalah semua itu dikendalikan dari daya belinya juga. Kita ambil contoh di negara Singapura pendapatan perbulan mereka sekitar $ 5000 dollar singapura atau sekitar 50 juta rupiah perbulan, harga rokok di sana sekitar 120 ribu rupiah. Bandingkan dengan negara indonesia yang rata rata gajinya 3 juta per bulan, sedangkan harga rokok disini bekisar 15 ribu rupiah. Secara cepat kita mungkin bisa mengambil kesimpulan sendiri.
rokok linting dewe
Sekarang mari kita pikirkan apa yang akan terjadi jika rokok mengalami kenaikan hingga tiga kali lipat lebih mahal, menjadi Rp. 50.000 . Apakah daya beli masyarakat yang tetap segitu saja mampu membeli barang yang sebenarnya bukan kebutuhan pokok namun dianggap kebutuhan yang cukup penting terutama bagi kalangan perokok berat, dengan harga tiga kali lebih mahal. Seperti yang kita ketahui sekarang ditengah laju inflasi yang kian deras harga kebutuhan pokok satu per satu mengalami kenaikan, masyarakat terutama pada kalangan bawah cenderung tidak akan membeli rokok yang harganya terlampau mahal mereka pasti lebih memilih membelanjakan uang mereka untuk membeli bahan sembako untuk keluarga mereka. Namun disini banyak yang tidak kehilangan akal begitu saja. Seperti yang kita ketahui vapor atau rokok elektrik yang saat ini menjadi tren di berbagai kalangan terutama remaja. Memang harga satu unit yang berkisar antara seratus ribu hingga jutaan terkesan mahal, namun untuk cairan atau isinya bisa didapatkan dengan harga yang relatif murah hal ini mungkin akan menjadi alternatif bagi perokok yang terlalu berat untuk mengeluarkan uang lima puluh ribu untuk satu bungkus rokok. Selain itu ada juga cara yaitu tingwe atau ngelinting dewe yang dalam bahasa indonesianya adalah melinting sendiri. Cara ini dilakukan dengan cara mencampur tembakau dan cengkeh kering kemudian digulung pada sebuah kertas rokok yang dapat dibeli dengan harga yang cukup murah dan yang paling penting disini adalah tidak ada pajak atau cukai yang dikenakan pada hal-hal diatas tadi.
Dan pada akhirnya permasalahan tentang kesehatan tidak teratasi karena banyak perokok yang menggunakan cara alternatif untuk memenuhi kebutuhan akan kecanduan merokok mereka yang telah dijalani bertahun tahun. Walaupun bisa dikatakan asap rokok akan berkurang, namun dengan cara tersebut negara juga akan mengalami kerugian karena berkurangnya pemasukan yang mencapai triliunan rupiah tersebut. Bukan hanya itu petani cengkeh dan tembakau tentu akan mengalami penurunan permintaan dari pabrik yang telah menjalin kerjasama bertahun – tahun akibat penurunan penjualan dari rokok itu sendiri. Imbasnya tak cuma berhenti disitu, apa yang akan terjadi jika suatu perusahaan mengalami penurunan penjualan, tentu saja akan mengalami kerugian dan dampaknya adalah akan berkurangnya karyawan yang selama ini menggantungkan hidup dari pabrik rokok tersebut. Ketika banyak pemutusan hubungan kerja, pengangguran menjadi lebih banyak masalah baru akan timbul lagi.
Memang dari hampir seluruh perokok sangat tidak meyetujui dengan rencana kenaikan harga yang signifikan tersebut, hal ini dikarenakan mereka akan merasa keberatan untuk memenuhi kebutuhannya yang sebenarnya tidak terlalu penting itu. Namun di sisi lain banyak orang yang sangat setuju dengan rencana ini terutama kalangan pembenci rokok. Jika menilai dengan cara subyektif saja, semua orang akan mempertahankan pendapatnya masing – masing. Marilah berpikir lebih objektif tentang dampak positif dan dampak negatifnya.