Jenis-Jenis Reksa Dana dan Tingkat Risikonya

jenis reksa dana tingkat resiko

Walaupun jenis reksa dananya berbeda, setiap reksa dana pasti memiliki tujuan yang sama, yaitu memperoleh keuntungan dalam jangka waktu tertentu. Untuk mencapai tujuan yang diharapkan, tentu dibutuhkan strategi dan perencanaan yang matang.

Oleh karena itu, reksa dana yang sering ditawarkan kepada masyarakat dibagi menjadi 4 jenis reksa dana yang tiap-tiap jenisnya memiliki portofolio yang berbeda. Yaitu reksa dana saham, pendapatan tetap (obligasi), pasar uang, dan campuran.

Dalam tiap jenis reksa dana terdapat tingkat return dan risiko yang berbeda. Informasi mengenai hal ini bisa Anda baca pada prospektus sebelum membei reksa dana.

Sebelum menentukan jenis reksa dana apa yang akan Anda beli, sebaiknya Anda harus melihat profil Anda sendiri.

Apakah Anda tipe investor yang berani mengambil risiko dengan imbal balik keuntungan yang juga besar, atau Anda cenderung bermain aman dalam menginvestasikan uang, atau bisa juga diantaranya keduanya.

(Baca Juga : Apa itu reksa dana ?)

Keuntungan dari sebuah investasi berbanding lurus dengan risikonya.

Jika Anda menginginkan keuntungan yang besar maka risiko kerugiannya juga sama besarnya.  Begitu juga sebaliknya Anda mengharapkan risiko yang kecil maka kemungkinan keuntungannya sama kecilnya dengan risikonya.
(High Risk, High Return. Low Risk, Low Return)

Setelah Anda mengetahui profil risiko sendiri. Saatnya Anda menentukan jenis reksa dana apa yang paling cocok

 

Jenis-Jenis Reksa Dana dan Tingkat Risikonya

Reksa dana adalah salah satu sarana investasi yang minim resikonya karena dalam satu reksa dana memiliki diversifikasi atau pembagian ke beberapa instrumen investasi.

Hal ini bertujuan untuk meminimalisir risiko yang mungkin terjadi. Ada pepatah mengatakan “Jangan menaruh semua telur pada satu keranjang yang sama” tentu Anda sudah paham apa maksudnya.

 

• Reksa Dana Saham (Equity Fund)

 

    Reksa Dana Saham (RDS) adalah jenis reksa dana yang menginvestasikan minimal 80% – 100% assetnya pada instrumen saham, 0% – 20% pada Obligasi dan Pasar Uang. Jenis ini adalah yang paling besar menghasilkan return namun risiko kerugiannya juga paling besar diantara jenis reksa dana lainnya.

Reksa dana saham cocok untuk investasi dengan jangka yang panjang atau sekitar 5 tahun lebih. Mengapa demikian ?

Karena RDS yang hampir seluruh portofolio investasinya dalam bentuk saham, nilai pergerakannya akan mengikuti harga saham yang sangat fluktuatif.

Bisa saja beberapa bulan setelah Anda membeli reksa dana saham, haraganya malah turun dari harga saat Anda membelinya karena terpengaruh oleh harga saham di pasar modal yang juga turun.

    Namun dalam jangka panjang reksa dana saham mampu menghasilkan return yang cukup tinggi yaitu sekitar 15% – 20 % per tahunnya. Dalam jangka waktu 10 tahun

kita ambil contoh tiga RDS dari beberapa Manajer Investasi yang mampu membukukan keuntungan 250 % hingga 370 % dalam jangka waktu 10 tahun.

Pratama Saham dengan return 376,59 %,  Schorder Dana Prestasi 333,70%  dan  Batavia saham 261,93%.

    Namun perlu dipahami risikonya, jika reksa dana saham pertahun mampu menghasilkan return hingga 20% maka risiko kerugian yang mungkin terjadi juga sama besarnya.

Reksa Dana Saham menghasilkan return yang paling besar namun dengan risiko yang juga paling besar diantara yang lainnya.

Investasi reksa dana saham akan sangat tepat bila tujuan dari investasinya adalah jangka panjang. Seperti untuk biaya pendidikan anak, dana pensiun atau kebutuhan jangka panjang lainnya.

(Baca Juga : Alasan kenapa Anda harus Investasi Reksa Dana)

• Reksa Pendapatan Tetap (Fixed Income Fund)

    Merupakan jenis reksa dana yang akan menginvestasikan sebagian uang Anda pada efek hutang. Komposisinya adalah minimal 80 % – 100% pada Obligasi, 0% – 20% pada saham atau pasar uang.

Reksa Dana Pendapatan Tetap untuk mendapatkan keuntungan yang optimal jangka waktu investasinya yaitu lebih dari 1 tahun.

    Tingkat keuntungan dan risiko dari jenis reksa dana ini berkisar antara 7 % – 12%. Hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya adalah tingkat suku bunga yang ditetapkan oleh Bank Indonesia.

Jika suku bunga naik maka harga dari obligasi akan turun, begitpula sebaliknya suku bunga turun maka harga obligasi akan naik.

   Karena dengan tingkat suku bunga yang naik maka masyarakat atau para investor lebih cenderung akan menaruh uang mereka di bank daripada di obligasi.

• Reksa Dana Pasar Uang (Money Market Fund)

tingkat risiko reksa dana pasar uang

   Reksa dana jenis ini mengalokasikan seluruh investasinya pada pasar uang yang berjangka kurang dari 1 tahun. Seperti, Deposito, SBI, Obligasi yang jatuh temponya kurang dari 1 tahun, dan surat berharga lainnya.

    Reksa dana pasar uang merupakan jenis reksa dana yang paling kecil risikonya. Sangat cocok bagi anda yang mempunyai profil risiko konservatif dengan tingkat return 5% – 7%. Tidak jauh berbeda dengan deposito karena memang instrumennya hampir sama

Pada grafik diatas juga menjelaskan kenaikannya yang konstan dan hampir tidak ada penurunan. Atau bisa dibilang risikonya hampir tidak ada.

Karena alokasinya pada pasar uang maka jenis reksa dana ini sangat dipengaruhi oleh tingkat suku bunga.

• Reksa Dana Campuran (Balanced Fund) 

tingkat risiko reksa dana campuran

    Reksa Dana ini memiliki alokasi investasi pada 3 instrumen diatas tadi dengan maksimal 79% pada salah satu instrumen antara saham, obligasi, pasar uang.

    Jenis reksa dana ini menawarkan tingkat return yang lebih besar dari reksa dana pendapatan tetap. Dengan tingkat keuntungan sekitar 10% – 15 % per tahunnya.

grafik reksa dana campuran

    Kelebihan jenis reksa dana campuran adalah diversifikasinya yang cukup berimbang. Jadi jika salah satu instrumen investasi mengalami penurunan tidak terlalu mengurangi NAB/Unit karena bisa jadi instrumen lainnya mengalami kenaikan.

 

(Baca Juga : Cara Kerja Reksa Dana)

Cara memilih reksa dana yang tepat untuk Anda adalah dengan menentukan tujuan investasi yang Anda lakukan.

Jika tujuan Anda untuk keperluan dalam jangka waktu kurang dari 1 tahun maka reksa dana pasar uang bisa menjadi pilihan terbaik.

Jika tujuan investasi Anda untuk jangka 1-3 tahun misalakan ingin DP mobil atau DP KPR Rumah dalam waktu 3 tahun, reksa dana pendapatan tetap bisa jadi alternatifnya

Bila Anda bertujuan investasi untuk 3-5 tahun mendatang seperti untuk biaya pendidikan anak dari SD ke SMP atau ke jenjang yang lebih tinggi, sebaiknya Anda memilih reksa dana  campuran.

Bagi Anda yang ingin menyiapkan dana pensiun atau untuk biaya kuliah anak yang jangka waktunya lebih dari 5 tahun. Maka reksa dana saham merupakan pilihan yang tepat.

 

Jangka waktu tersebut adalah periode waktu untuk mendapatkan hasil return yang optimal. Namun, jika dalam 1 atau 2 tahun misalnya Anda ingin menjual kembali reksa dana saham atau reksa dana lain Anda karena kebutuhan atau dirasa telah menghasilkan return yang cukup memuaskan, sah-sah saja bagi Anda untuk menjualnya.

Anda juga bisa melakukan pembagian alokasi investasi. Misalnya,  50%  reksa dana saham, 25% pada reksa dana campuran, 35% reksa dana pendapatan tetap. Jumlah alokasi bisa Anda sesuaikan sesuai dengan tujuan, kebutuhan dan seberapa siap Anda untuk menanggung risikonya.

Penyebutan produk reksa dana hanya sebagai contoh studi kasus saja, bukan merupakan rekomendasi maupun prediksi kinerja di masa depan. Masa depan hanya Tuhan yang tahu, hehehe